Sebuah Keresahan dari Denpasar
Di situasi saat ini, rasa empatiku begitu besar kepada anak-anak kecil yang ada di Kalimantan. Mereka harus merasakan sesak napas dan rasa sakit yang bahkan belum bisa mereka jelaskan. Kuingat saat berada di dekat asap pembakaran sampah saja, aku sudah merasa seperti tercekat. Apalagi asap kebakaran hutan yang menyebar begitu luas. Bayangkan, bayi dan balita di sana. Bagaimana mereka harus menghadapi situasi ini, sementara sistem pernapasan mereka masih berkembang?
Aku menulis ini dari Denpasar, yang saat ini juga sedang menghadapi krisis BBM. Di media sosial, warga Denpasar dan sekitarnya mengeluhkan kesulitan yang mereka alami. Namun, keluhan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari warga Kalimantan yang merasa bahwa kesusahan di Denpasar belum seberapa dibandingkan dengan apa yang mereka alami.
Warga pun terbelah. Sehancur inikah keadaan Indonesia saat ini? Aku ingin mengatakan bahwa kita tidak perlu saling adu nasib. Setiap manusia punya kesusahannya masing-masing, dengan bentuk dan tingkat kesulitan yang berbeda. Kita tidak selalu tahu seberapa berat sesuatu yang sedang dihadapi orang lain.
Ketika seseorang dari wilayah berbeda menyampaikan keluhannya, alangkah baiknya jika kita merespons dengan empati, bukan dengan membandingkan penderitaan. Bukankah kita bisa saling menguatkan tanpa harus membuktikan siapa yang paling susah?
Cukup kerusakan alam yang membuat kita sesak. Jangan sampai antar warga ikut terpecah hanya karena kita lupa bahwa di balik setiap keluhan, ada manusia yang sedang berusaha menghadapi kesulitannya sendiri.
Di tengah keadaan seperti ini, aku ingin kembali berharap kepada Sang Pencipta, yang mampu mengubah keadaan dalam sekejap. Aku percaya kepada kuasa-Nya, tetapi aku juga berharap agar kita sebagai manusia tidak kehilangan hati untuk saling mengasihi.
Sebab, di tengah segala kesulitan yang sedang kita hadapi, jangan sampai kita kehilangan satu hal yang masih bisa kita berikan kepada sesama: empati.
Comments
Post a Comment