Skip to main content

Bali yang Kupilih: Sanur

 Bali yang Kupilih: Sanur



Maret 2027 nanti, tepat aku 2 tahun tinggal di Bali, kalau ditanya daerah mana yang paling aku suka, jawabannya justru Sanur. Kenapa?

Awalnya aku biasa aja sama Sanur. Tapi setelah cukup lama tinggal di Bali, aku mulai ngerti kenapa orang yang sudah lama mengenal Bali sering bilang Sanur punya old Bali vibes.

Memang terasa old. Tapi justru itu yang aku suka.

Pertama, aku suka suasananya, terasa lebih tenang dibandingkan wilayah lainnya. Melakukan apapun seperti tidak terburu-buru, dan slow living-nya lebih terasa. Rasanya seperti Bali yang nggak terlalu berusaha menjadi “Bali” untuk wisatawan.

Kedua, aku juga suka karena Sanur cukup nyaman untuk jalan kaki. Ada pantai, pedestrian yang enak, dan suasananya lebih santai untuk sekadar jalan pagi atau sore.

Terakhir, salah satu hal yang menurutku menarik: ada mall yang lokasinya literally di depan pantai. Oleh karena aku suka window shopping, jadi bisa dapat dua suasana sekaligus—jalan-jalan di mall, lalu menikmati suasana pantai di belakangnya.

Mungkin buat yang mencari Bali dengan nightlife, beach club, dan suasana yang selalu ramai, Sanur bukan pilihan pertama.

Tapi kalau yang dicari adalah Bali yang lebih slow, tenang, walkable, dekat pantai, dan punya sedikit rasa “old Bali”.


Comments

Popular posts from this blog

Sampai Jumpa di Ratusan Purnama Berikutnya

  Seandainya gedung stasiun BNI City bisa berbicara, mungkin dia akan menceritakan kisah bertemunya dua orang canggung yang terjadi saat senja pada tanggal 28 Mei 2024. Seorang perempuan kebingungan menemukan teman lamanya yang sudah menunggu di depan stasiun BNI City karena perempuan itu baru pertama kali transit di sana. “Dia nervous sekali jadinya dia tidak bisa menemukan jalan keluar”. Lekas setelah berhasil melihat punggung temannya itu, dia menghampiri dan itu membuat suasana hatinya menjadi gembira. Seperti mimpi, pria itu, yang sudah 8 tahun tidak dia tahu keberadaannya, ada di hadapannya senja itu. Sangat dekat. Bahkan kalo dia bodoh saja sedikit, dia bisa memeluk pria itu. Dan hal itu pasti akan terus jadi bahan ledekan pria itu. Mereka menyusuri ibukota berdua menggunakan taksi online menuju ke tempat yang sudah dipilihkan si perempuan. Di sana mereka akan bertemu dengan dua teman lainnya. Selasa itu ditutup dengan banyak cerita dan opini. Salah satunya yang bisa dik...

Belajar menulis

  Hadirmu, “Star”-ku Antoni. Seorang pemuda yang tinggal di ibukota dan baru saja lulus SMA. Dia sosok jenius sekaligus aneh. Dia tipe lelaki penyendiri, dingin, dan tidak bersahabat. Dia menjauh dari siapapun yang berusaha dekat dengannya. Pernah suatu kali, seorang teman sekelasnya mendatangi mejanya saat bel tanda istirahat telah berbunyi, mengajaknya ke kantin. Antoni   malah memberikan tatapan kosong dan pergi begitu saja, tidak menghiraukan ajakan tersebut. Sejak saat itu, Antoni dijauhi oleh seluruh teman-temannya. Dan itulah yang diinginkannya. Suatu hari, ia dinyatakan lulus ujian masuk universitas. Itu merupakan sebuah universitas ternama. Universitas yang terkenal sebagai tempat orang-orang jenius dan sangat sulit untuk masuk ke universitas tersebut. Siapapun yang lolos masuk ke sana pasti akan sangat bangga dan bahagia sekali. Namun berbeda dengan Antoni. Ia mampu lolos dengan perasaan yang biasa saja, padahal nilainya sangatlah sempurna. Antoni adalah anak y...

Tempat Masa Kecilku Tertinggal

Dulu, aku tidak pernah menganggap halaman rumah sebagai sesuatu yang istimewa. Itu hanya halaman tempatku bermain setiap hari. Tempat yang ku lewati begitu saja ketika keluar-masuk rumah, tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan begitu merindukannya. Tapi setelah dewasa, setelah harus meninggalkan rumah dan pindah ke ibu kota, aku baru sadar: ternyata tempat sesederhana itu menyimpan begitu banyak bagian dari hidupku. Dulu, halaman ini begitu asri. Tanahnya gembur, dan berbagai macam tumbuhan tumbuh dengan subur, bahkan sampai berbuah. Ada pohon jambu, mangga harum manis, mangga muara yang tumbuh di belakang rumah, pisang, nanas, sirsak, serai, rimbang, dan entah berapa banyak tanaman lain yang sekarang mungkin sudah tidak lagi ada. Dulu, tanah di halaman ini juga tidak seperti yang terlihat sekarang. Tanahnya lebih tinggi dan masih cukup tebal. Yang terlihat di foto ini sebagian besar adalah tanah timbunan, karena tanah aslinya perlahan tergerus dan semakin menipis setiap...