Tapi setelah dewasa, setelah harus meninggalkan rumah dan pindah ke ibu kota, aku baru sadar: ternyata tempat sesederhana itu menyimpan begitu banyak bagian dari hidupku.
Dulu, halaman ini begitu asri. Tanahnya gembur, dan berbagai macam tumbuhan tumbuh dengan subur, bahkan sampai berbuah. Ada pohon jambu, mangga harum manis, mangga muara yang tumbuh di belakang rumah, pisang, nanas, sirsak, serai, rimbang, dan entah berapa banyak tanaman lain yang sekarang mungkin sudah tidak lagi ada.
Dulu, tanah di halaman ini juga tidak seperti yang terlihat sekarang. Tanahnya lebih tinggi dan masih cukup tebal. Yang terlihat di foto ini sebagian besar adalah tanah timbunan, karena tanah aslinya perlahan tergerus dan semakin menipis setiap kali hujan datang.
Begitu juga dengan rumah ini.
Dulu, rumah ini terasa begitu aman. Hujan deras tidak pernah membuat kami khawatir, bahkan air sungai yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumah pun tidak pernah sampai menjadi ancaman seperti sekarang.
Mungkin rumah ini memang tidak pernah benar-benar berubah menjadi buruk. Mungkin kamilah yang dulu begitu pandai merawatnya. Atau mungkin, ketika masih kecil, segala sesuatu memang terasa lebih sederhana, lebih aman, dan lebih nyaman.
Yang jelas, dulu aku tidak pernah tahu bahwa halaman ini sedang menyimpan masa kecilku.
Aku hanya tahu bahwa setiap hari, aku bermain di sana.

Comments
Post a Comment