Skip to main content

Posts

Bali, After I Lived Here

Bali, After I Lived Here Throwback to 2020, Bali was my first choice between two options: Bali or Belitung. I remember, I was enjoying my university break. Before I actually set foot in Bali, I'd heard plenty of stories about the island. I'd even watched soap operas on TV that used Bali as a setting. From those stories and what I'd seen on screen, Bali seemed like an interesting place to visit. Moreover, the island is renowned for its beautiful beaches. So, when I finally had the chance to vacation there, I was thrilled. It felt so exciting to see a place I'd only known about through stories and television. For several days there, we rented a car with a driver. This gave us freedom to go wherever we wanted, visiting all the places on our wishlist. I also remember how exhausting it was because the distances between destinations were quite long. I fell asleep in the car almost every time we moved. At that time, Bali was a place for me to go on holiday. A place to visit as...
Recent posts

Bali, Setelah Aku Tinggal di Sini

Read in English Bali, Setelah Aku Tinggal di Sini Throwback ke tahun 2020, Bali adalah tempat yang kupilih di antara dua pilihan: Bali atau Belitung. Kalau tidak salah ingat, waktu itu aku sedang menikmati liburan semester kuliah. Sebelum benar-benar menginjakkan kaki di Bali, aku sudah cukup sering mendengar cerita orang lain tentang pulau ini. Aku juga pernah menonton sinetron di TV yang menggunakan Bali sebagai latar tempatnya. Dari cerita-cerita itu dan apa yang kulihat di layar televisi, Bali terasa seperti tempat yang menarik untuk dikunjungi. Apalagi, pulau ini terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Jadi, ketika akhirnya punya kesempatan untuk berlibur ke sana, aku excited sekali. Rasanya menyenangkan bisa melihat langsung tempat yang sebelumnya hanya kukenal lewat cerita orang lain dan layar televisi. Selama beberapa hari di sana, kami menggunakan jasa rental mobil plus driver. Jadi, kami bebas pergi ke mana saja untuk mengunjungi semua tempat yang sudah masuk wishlist. A...

Tempat Masa Kecilku Tertinggal

Dulu, aku tidak pernah menganggap halaman rumah sebagai sesuatu yang istimewa. Itu hanya halaman tempatku bermain setiap hari. Tempat yang ku lewati begitu saja ketika keluar-masuk rumah, tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan begitu merindukannya. Tapi setelah dewasa, setelah harus meninggalkan rumah dan pindah ke ibu kota, aku baru sadar: ternyata tempat sesederhana itu menyimpan begitu banyak bagian dari hidupku. Dulu, halaman ini begitu asri. Tanahnya gembur, dan berbagai macam tumbuhan tumbuh dengan subur, bahkan sampai berbuah. Ada pohon jambu, mangga harum manis, mangga muara yang tumbuh di belakang rumah, pisang, nanas, sirsak, serai, rimbang, dan entah berapa banyak tanaman lain yang sekarang mungkin sudah tidak lagi ada. Dulu, tanah di halaman ini juga tidak seperti yang terlihat sekarang. Tanahnya lebih tinggi dan masih cukup tebal. Yang terlihat di foto ini sebagian besar adalah tanah timbunan, karena tanah aslinya perlahan tergerus dan semakin menipis setiap...

Bali yang Kupilih: Sanur

  Bali yang Kupilih: Sanur Maret 2027 nanti, tepat aku 2 tahun tinggal di Bali, kalau ditanya daerah mana yang paling aku suka, jawabannya justru Sanur. Kenapa? Awalnya aku biasa aja sama Sanur. Tapi setelah cukup lama tinggal di Bali, aku mulai ngerti kenapa orang yang sudah lama mengenal Bali sering bilang Sanur punya old Bali vibes . Memang terasa old. Tapi justru itu yang aku suka. Pertama, aku suka suasananya, terasa lebih tenang dibandingkan wilayah lainnya. Melakukan apapun seperti tidak terburu-buru, dan slow living -nya lebih terasa. Rasanya seperti Bali yang nggak terlalu berusaha menjadi “Bali” untuk wisatawan. Kedua, aku juga suka karena Sanur cukup nyaman untuk jalan kaki. Ada pantai, pedestrian yang enak, dan suasananya lebih santai untuk sekadar jalan pagi atau sore. Terakhir, salah satu hal yang menurutku menarik: ada mall yang lokasinya literally di depan pantai. Oleh karena aku suka window shopping , jadi bisa dapat dua suasana sekaligus—jalan-jalan di mall, lalu ...

Sampai Jumpa di Ratusan Purnama Berikutnya

  Seandainya gedung stasiun BNI City bisa berbicara, mungkin dia akan menceritakan kisah bertemunya dua orang canggung yang terjadi saat senja pada tanggal 28 Mei 2024. Seorang perempuan kebingungan menemukan teman lamanya yang sudah menunggu di depan stasiun BNI City karena perempuan itu baru pertama kali transit di sana. “Dia nervous sekali jadinya dia tidak bisa menemukan jalan keluar”. Lekas setelah berhasil melihat punggung temannya itu, dia menghampiri dan itu membuat suasana hatinya menjadi gembira. Seperti mimpi, pria itu, yang sudah 8 tahun tidak dia tahu keberadaannya, ada di hadapannya senja itu. Sangat dekat. Bahkan kalo dia bodoh saja sedikit, dia bisa memeluk pria itu. Dan hal itu pasti akan terus jadi bahan ledekan pria itu. Mereka menyusuri ibukota berdua menggunakan taksi online menuju ke tempat yang sudah dipilihkan si perempuan. Di sana mereka akan bertemu dengan dua teman lainnya. Selasa itu ditutup dengan banyak cerita dan opini. Salah satunya yang bisa dik...

Waiting for Godot (Reflection)

  Reflection   The story of Waiting for Godot features four names, namely Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky, and Boy. These four figures are in uncertainty waiting for a character named Godot who until the end it is known that he did not approach them. While waiting, Vladimir and Estragon discuss many things that surround them. It is through these conversations that the character of each character is seen as well as the confusion and strangeness that appears in their minds. Personally, I think this drama is very complicated because it carries theological things. Theological which talks about everything related to belief. However, it is quite interesting because it feels close to human life in the uncertainty that one encounters while living in the world, it really tells the story of dwarf human existence. After reading this drama script, it occurred to me that the "Godot" is inside each person and not outside himself.

A Sorrowful Woman (Reflection)

Reflection/Reader response A Sorrowful Woman             A Sorrowful Woman tells the story of a woman's life in a marriage who made her a wife and mother. Being a wife and mother requires a strong mentality because living a patterned life with that same job is not easy. The duties of a wife and mother that I know are taking care of her husband's needs, taking care of children's needs, and taking care of household items. These jobs all consume a woman's time and energy every day. He became deprived of freedom and was haunted by a feeling of boredom. In this story, I see this wife and mother never seemed to have thought of becoming a wife and mother. She was just forced to do her role as a woman in general. So that all the work tormented his mind. Maybe before marriage she fantasized about the perfection she would get when she became a wife and a mother. However, he did not get perfection completely or missed his dream. Even tho...