Dulu, aku tidak pernah menganggap halaman rumah sebagai sesuatu yang istimewa. Itu hanya halaman tempatku bermain setiap hari. Tempat yang ku lewati begitu saja ketika keluar-masuk rumah, tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan begitu merindukannya. Tapi setelah dewasa, setelah harus meninggalkan rumah dan pindah ke ibu kota, aku baru sadar: ternyata tempat sesederhana itu menyimpan begitu banyak bagian dari hidupku. Dulu, halaman ini begitu asri. Tanahnya gembur, dan berbagai macam tumbuhan tumbuh dengan subur, bahkan sampai berbuah. Ada pohon jambu, mangga harum manis, mangga muara yang tumbuh di belakang rumah, pisang, nanas, sirsak, serai, rimbang, dan entah berapa banyak tanaman lain yang sekarang mungkin sudah tidak lagi ada. Dulu, tanah di halaman ini juga tidak seperti yang terlihat sekarang. Tanahnya lebih tinggi dan masih cukup tebal. Yang terlihat di foto ini sebagian besar adalah tanah timbunan, karena tanah aslinya perlahan tergerus dan semakin menipis setiap...
Bali yang Kupilih: Sanur Maret 2027 nanti, tepat aku 2 tahun tinggal di Bali, kalau ditanya daerah mana yang paling aku suka, jawabannya justru Sanur. Kenapa? Awalnya aku biasa aja sama Sanur. Tapi setelah cukup lama tinggal di Bali, aku mulai ngerti kenapa orang yang sudah lama mengenal Bali sering bilang Sanur punya old Bali vibes . Memang terasa old. Tapi justru itu yang aku suka. Pertama, aku suka suasananya, terasa lebih tenang dibandingkan wilayah lainnya. Melakukan apapun seperti tidak terburu-buru, dan slow living -nya lebih terasa. Rasanya seperti Bali yang nggak terlalu berusaha menjadi “Bali” untuk wisatawan. Kedua, aku juga suka karena Sanur cukup nyaman untuk jalan kaki. Ada pantai, pedestrian yang enak, dan suasananya lebih santai untuk sekadar jalan pagi atau sore. Terakhir, salah satu hal yang menurutku menarik: ada mall yang lokasinya literally di depan pantai. Oleh karena aku suka window shopping , jadi bisa dapat dua suasana sekaligus—jalan-jalan di mall, lalu ...