Hadirmu,
“Star”-ku
Antoni. Seorang
pemuda yang tinggal di ibukota dan baru saja lulus SMA. Dia sosok jenius
sekaligus aneh. Dia tipe lelaki penyendiri, dingin, dan tidak bersahabat. Dia
menjauh dari siapapun yang berusaha dekat dengannya. Pernah suatu kali, seorang
teman sekelasnya mendatangi mejanya saat bel tanda istirahat telah berbunyi,
mengajaknya ke kantin. Antoni malah
memberikan tatapan kosong dan pergi begitu saja, tidak menghiraukan ajakan
tersebut. Sejak saat itu, Antoni dijauhi oleh seluruh teman-temannya. Dan
itulah yang diinginkannya.
Suatu hari, ia
dinyatakan lulus ujian masuk universitas. Itu merupakan sebuah universitas
ternama. Universitas yang terkenal sebagai tempat orang-orang jenius dan sangat
sulit untuk masuk ke universitas tersebut. Siapapun yang lolos masuk ke sana
pasti akan sangat bangga dan bahagia sekali. Namun berbeda dengan Antoni. Ia
mampu lolos dengan perasaan yang biasa saja, padahal nilainya sangatlah
sempurna.
Antoni adalah anak
yatim piatu. Dia diasuh oleh seorang janda tanpa anak, bibinya. Saat bibinya
mengetahui keponakannya berhasil masuk Universitas ternama itu, beliau sangat
bangga dan bahagia sekali. Namun Antoni hanya membalasnya dengan ekspresi datar
seolah itu hanya hal biasa dan tak patut untuk dibangga-banggakan.
Beberapa hari
setelahnya, Antoni memutuskan untuk tinggal di kost sendiri dekat kampus. Dia
menyampaikan hal tersebut kepada bibinya tanpa basa basi meminta saran ataupun
pendapat. Setelah pamit, ia bergegas mencari kost yang paling bagus dan murah
dekat kampusnya. Sialnya, hujan seketika mengguyur dengan deras, tetapi itu
tidak mengurungkan tekad Antoni untuk mendapatkan kost yang diharapkan.
Setelah bersusah
payah mencari dengan baju kuyup menempel di badannya, akhirnya Antoni
mendapatkan kost yang sesuai dengan keinginan. Segera ia merapikan
barang-barangnya di kamar yang lumayan besar itu. Di kamar itu terdapat wc yang
lumayan luas juga. Antoni sedikit heran,
“mengapa luas sekali kamar ini?”
“Bahkan bisa untuk 2 orang....,”
“entahlah..”
Malam
pun tiba, Antoni bergegas untuk istirahat. Badannya terasa lelah dan meriang
akibat perjuangan siang tadi. Dia mulai memejamkan mata berharap dapat
istirahat dengan segera. Di menit ke-limabelas usahanya,
“knock..knock..knock..”
Jendela kamarnya diketuk dari luar.
Diabaikan saja olehnya. "Pasti tetangga kamar sebelah yang ingin
mengetahui wujud tetangga baru", pikirnya. Tentu saja dia tidak ingin
membukakannya.
Ketukan
jendela semakin kencang dan tidak beraturan. Sekarang disertai ucapan-ucapan
ngelantur, sangat mengganggu. Ia gagal mengabaikannya, dengan terpaksa bangkit
membukakan pintu. Tiba-tiba..
“Aku Star, penghuni di sini juga”
gubraaaaaaaak.
Sesosok wanita cantik seusianya yang
berdandanan liar sambil memegang botol anggur merah memaksa masuk. Antoni
menyimpulkan bahwa wanita itu salah kamar dan sedang mabuk berat. Antoni
membantunya dan merawatnya hingga ia tersadar. Di sisi lain Antoni sangat
kebingungan. Jika memang wanita liar ini adalah teman sekamarnya, apakah tidak
masalah jika lelaki dan wanita yang belum memiliki status nikah berada dalam
satu kamar untuk beberapa bulan atau bahkan tahun?
“Ah, entahlah..!”
Antoni enggan memikirkannya.
Persahabatan
mereka dimulai sejak itu. Antoni selalu menjadi bahan jahilan Star. Kesal,
namun entah mengapa jika satu hari saja Star tidak menjahilinya, hidup Antoni
terasa suram. Mungkin Antoni merasakan sesuatu yang berbeda dari dalam diri
Star. Kepada Star seoranglah Antoni ingin berbicara panjang lebar hingga
menceritakan derita hidupnya. Meski mereka terlihat seperti kucing dan anjing,
tetapi mereka sangat peduli satu sama lain. Terlihat saat Star tiba di kostan
dalam keadaan menangis dan menceritakan bahwa dia diganggu oleh preman gang.
Tanpa pikir panjang Antoni langsung menemui dan menghajar preman itu.
“perempuan yang kau maksudkan siapa bodohhh!!” bentak preman sambil menahan
rasa sakit bekas tonjokan Antoni. Segera setelahnya Antoni pulang ke kostan.
Semakin lama
bersama, Antoni mulai merasakan sesuatu yang aneh. Rasa tak ingin kehilangan,
seperti ingin mendekap, seperti ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia sangat
nyaman di dekat Star. Antoni kebingungan, “Apa nama dari perasaan aneh
tersebut?”
Star pernah mengatakan “pacaran hanya
menambah beban hidup”. Setelah mendengar itu, ia mengurungkan niatnya untuk
mengatakan tentang perasaan aneh yang dirasakannya. Terlebih karena Antoni tak
ingin semuanya berubah.
Empat tahun
berlalu. Semua canda tawa dan duka telah mereka lewati. Tak terasa esok adalah
hari besar untuk mereka. Tanggungjawab yang telah diperjuangkan akhirnya
tuntas. Ya, esok mereka wisuda. Mereka sangat berbahagia, tetapi di baliknya
tersimpan rasa sedih. Mereka tak ingin berpisah. Mereka tak ingin persahabatan
mereka sampai situ saja.
Suatu malam di
kost setelah acara wisuda usai, Antoni memberanikan diri mengungkapkan sesuatu
kepada Star. Mengungkapkan perasaan aneh yang sempat ia acuhkan kini harus
diungkapkan.
“Aku mencintaimu Star” ujar Antoni.
“masa iya sahabatan tapi gak cinta, dasar
bodohh” balas Star.
“Maukah kau menjadi…..” ujar Antoni
terpotong karena Star segera menutup mulut Antoni dengan tangannya.
“Cukup, aku udah pernah bilang kalau
aku gak mau untuk…..” ujar Star terpotong. “ISTRIKU?!” Lanjut Antoni
mengejutkan Star dan membuatnya meneteskan air mata.
“Bukan pacar, tapi seseorang yang
bisa kuikat dalam janji suci pernikahan” ujar Antoni untuk pertama kalinya
meneteskan air mata.
Star tak menjawab, hanya menangguk
dan segera memeluk Antoni.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!‼” rasa
bahagia Antoni meluap.
Tiba-tiba ia terkejut mendengar
tetangga kostan menegurnya.
“Woi jangan berisik, sudah malam,
kalau sudah tidak ada kerjaan atau sudah tidak ngobrol dengan siapa-siapa lebih
baik tidur! Malem-malem kok ngedumel sendiri! pake teriak-teriak segala”, maki tetangga
kostannya itu.
Antoni hanya mengangguk tanpa
mendengarkan omelan itu karena saking bahagianya. Star cengengesan melihat
Antoni sedang dimaki-maki.
Keesokannya,
Antoni pamit kepada ibu kost sekaligus memberitahu kabar bahagia bahwa akan
segera melangsungkan pernikahan dengan Star, teman sekamar kostnya itu. Ibu
kost sangat bahagia mendengar Antoni akan segera menikah sekaligus kaget.
“Teman sekamar? Sejak kapan Saya
memperbolehkan lelaki dan wanita dalam satu kamar?” ujar ibu kost heran.
“sejak 4 tahun yang lalu bu, masa ibu
lupa? Saya juga awalnya heran, tetapi tenang saja bu, Saya tidak melakukan yang
tidak-tidak kok, malah Saya akan menikahi Star” ujar Antoni memperjelas.
Ibu kost sangat terkejut dan segera
melihat masuk ke dalam kamar Antoni untuk membuktikan.
“Mana Star mu itu?!” ujar ibu kost.
Ternyata selama
ini Antoni hidup bersama khayalannya. Ia mengidap Skizofrenia yang membuatnya
sulit membedakan realita atau khayalan. Sebab bagi penderita penyakit ini,
keduanya terasa sangat nyata. Akhirnya Antoni dibawa ke RSJ bersama “Star”
nya. Berat memang menerima kenyataaan bahwa itu semua hanyalah khayalan ketika
kita bisa melihat dan merasakannya secara nyata. Antoni mengidap penyakit itu
sejak kehilangan orang tuanya. Dari kesendirian dan kesepian yang ia rasakan
selama hidupnya.
Ditunggu kelanjutannya
ReplyDeletehi sorry baru respon. Boleh tau inisial km?
Delete