Sekarang aku ingin bercerita tentang
teman baikku di SMA. MAMETHESA. Apa itu MAMETHESA? MAMETHESA, singkatan nama
kami berempat. Ma untuk Marintan, Me untuk Mega, The untuk Theresia dan Sa
untuk Sartika. Wkwkw ya begitulah adanya. Sederhana aja kalau dari nama. Next,
masalah bagaimana kami bisa sampai seakrab ini. Dimulai dari obrolan kecil tapi
menarik dari situlah kami mulai nyaman. Bisa dikatakan kami selalu bersama.
Tapi bukan berarti karena kami jomblo. Behhh..jangan salah. *agaksombong*
Mulai dari nama pertama. Ma.
Marintan Monika Sihombing. Mari
kita definisikan Marintan itu seperti apa dipandangan penulis. Marintan atau
sering dipanggil Tan, Marin, dan panggilan tersendiri dari
penulis untuknya yaitu Marinthon DC
(sumpah! Karena sayangku nya itu makanya ku buat panggilan tersendiri) wkwkwk.
Marintan adalah perempuan batak bertubuh kekar *eh maksudnya punya otot gitulah.
Anak pertama dari 4 bersaudara. Sifatnya dewasa, supel, tapi orangnya mageran. Sekarang dia sedang berjuang
menjadi seorang ibu perawat yang baik dan benar di UPH. Memang dia cocoklah
jadi perawat. Kenapa? Karena dia orangnya pembersih, rapi juga. Tapi lagi-lagi
masalahnya, dia mageran. Coba bayangkan ketika ada pasien yang butuh
pertolongan, tiba-tiba muncul iblis mager-nya.
Duhh ga kebayang mau jadi apa negara ini. Cmewew-nya ada di Surabaya, LDR kata
Raisa.
Momen yang berkesan sama dia itu,
dan benar-benar tidak terlupakan waktu kami berkelahi. Setahun benar-benar tidak
ada tegur sapa. Benar-benar saling menghindar.
“Marinthon , rindu aku, ayok berkelahi lagi kita...” gumam hati
penulis sembari menulis.
Dan ketika dia ulang tahun, waktu itu masih ada
pameran merayakan hari jadi kota. Aku ingat, aku yang baru sembuh dan masih
dilarang keluar malam. Demi laekku ini.
Nama kedua. Me.
Mega Evelin Rajagukguk. Mega atau
yang akrab dikenal dengan sebutan Meg.
Padahal tinggal nambahin a doang, tapi entah kenapa lidah ini enggan
menambahkan secuil huruf itu. Mari kita kenal dia dari sudut pandang penulis.
Mega adalah perempuan batak, bertubuh gempal. Mega anak pertama dari 4
bersaudara. Mega, perempuan yang cerdas dibidang kimia dan ilmu pasti lainnya.
Dia hobi jalan-jalan, tapi mudah kelelahan. Dia baik, ramah, supel. Tidak heran
kalau dia punya banyak cmewew. Hp nya
tidak pernah sepi. Selalu aktif smsan dengan abang-abangan. Sering datang ke
sekolah dengan mata panda pertanda dia begadang. Mega bukan hanya teman baikku
di sekolah, tapi juga kami teman segereja. Dia temanku mengikuti katekisasi
sidi, dan kami ikut di persekutuan remaja gereja. Mega sepertinya ingin menjadi
kimiawati sejati. Kimiawan untuk pria dan kimiawati untuk wanita. Hahahahaah.
“Semangat ya meg, ga tau aku gimana wujud
otak mu sekarang, cair kali kalo masalah kimia. Salut aku...” ucap lirih
penulis tanda kekagumannya.
Penulis masih ingat dulu sering pinjam hp Mega, karena hp penulis waktu itu gawat
darurat alias susah menerima pesan masuk.
Nama ketiga. The.
Theresia Marito Hutagalung. Theresia
atau akrab dikenal dengan sebutan Ter,
TheHere *inibukantypo*, Terong, Lekku,
yobo, dsb. Perempuan yang setiap hari melintasi Indonesia-Jepang alias dia
tinggal dijalan sakura dekat simare-mare. Dari simare-mare ada simpang di
samping kosan kak Pika. *silahkanberkunjung* Rumah gadis ini menanjak ke bukit
golgota tempat penyaliban. Dekat dengan sorga, kira-kira hanya perlu menambah
500 rupiah saja. Tidak heran jika gadis ini memiliki tubuh kekar dan otot yang
menyelimuti kerangka tubuhnya. Betis yang kekar terbakar matahari menjadi tanda
jika dia cewe u-mild sejati. Jika kalian berniat ke rumahnya, penulis berharap
untuk membawa teman minimal satu orang dan harus memastikan teman anda tidak
akan mengeluh dalam hal menanjak. Kalau sudah tidak kuat, sayangnya disana
tidak ada kamera tempat melambaikan tangan. Tetapi setidaknya ada satu teman
yang menyaksikan kematian anda. Oke, kembali ke topik. Tere adalah gadis batak
yang tangguh, ceria, jujur dan terbuka. Bagi yang berminat merekrut dia sebagai
SPG produk makanan anjing, menurut saya dia terbaik. Jadi tiba-tiba penulis
teringat dengan anjingnya. Kalau tidak salah namanya siputih, atau siapalah
itu. Putih, dari namanya saja sudah jelas kalau anjing berwarna putih. Tapi
sayang, putih harus tabah meski sudah dinodai majikannya. Kini dia tidak putih
lagi. Bulunya diberi warna hitam sisa tancho
(semir rambut manusia). Tepat dimulai dari ubun-ubun putih. Sungguh malang
nasibnya. Kembali ke topik. Tere sekarang sedang berjuang menjadi seorang guru
biologi yang baik dan benar. Penulis ingat, kalau orang tuanya sangat berharap
Tere menjadi seorang guru seperti mereka. Setelah jadi guru bisa sertifikasi
dan jadi kepala sekolah. Penulis sudah hafal semua keinginannya itu. Semoga dia
bisa jadi kepala sekolah di SMA 1 Sibolga wkwkkw. Amin yarobb.. masalah cmewew
penulis kurang tahu dengan perkembangan masalah itu. Tapi ingat jelas mantan
yobo nya yang sampai bela-belain nyamperin penulis buat nanyain kabar gadis ini
ketika mereka sedang marahan. Sungguh terharu, tapi waktu itu aja sekarang
nggak lagi wkwkwkwk.
"Sehatnya kau kan lekku?" suara hati penulis sembari bercerita.
Momen yang tidak terlupakan
bersama makhluk goib ini ketika penulis membonceng Tere di Sibolga square. Dan
kami berdua terjatuh di tanjakan kecil tanpa ada penyebabnya alias kecelakaan
tunggal wkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkw.
Cukup segitu saja. Sebenarnya
cerita ini hanya mewakili sedikit, tapi setidaknya saya mau membagi. Jika
jikalau dan hanya jika ada yang ingin ditanyakan saya persilahkan.
Comments
Post a Comment